Berbelanja Aksesoris Unik Ala Lingkar Pernik

Umumnya,
kaum hawa menggemari aksesori. Perhatikan saja cara perempuan
berpenampilan, pasti ada satu jenis aksesori yang dikenakannya, entah
anting, cincin, gelang, kalung, bros, atau bahkan padu padan beberapa
aksesori. Setiap perempuan punya gaya dan selera berbeda dalam memilih
aksesori. Mulai warna, ukuran, desain, juga bahan bakunya. Tampil
mengenakan aksesori dengan gaya personal yang unik dan tak sama, inilah
kekhasan komunitas Lingkar Pernik.

Siapa pun penyuka aksesori
bisa menjadi bagian komunitas ini. Baik kolektor, pengguna aksesori,
juga perajin aksesori. Anda dapat berbelanja ragam jenis aksesori unik,
termasuk juga dapat belajar bersama cara meronce pernik menjadi aksesori
unik. Bagi yang gemar membuat aksesori, dan punya banyak koleksi, Anda
juga bisa menjualnya melalui berbagai kegiatan yang diadakan Lingkar
Pernik.  Salah satunya kegiatan "Kongkow Akhir Tahun Bersama Lingkar
Pernik" di Tjikini Cafe, Jakarta, Rabu (28/12/2011) lalu.

Di
sebuah kafe, anggota komunitas ini berbagi lahan untuk menjual aksesori
buatan tangan. Sebagian merancang sendiri aksesori mulai dari bahan baku
hingga merangkainya menjadi aksesori yang khas. Sebagian lagi
menggunakan bahan baku berupa pernak-pernik yang sudah jadi, lalu
meroncenya sesuai karakter masing-masing. Alhasil, ragam aksesori unik
yang khas, dan tak pernah sama satu dengan lainnya, dipajang dalam
bazaar sederhana.

"Anggota Lingkar Pernik sering kumpul dan biasanya kita nge-craft
bareng. Kita lebih sering menjual kreasi aksesori lewat bazaar. Seperti
hari ini, kita seharian kumpul bareng di kafe ini, masing-masing
membawa alat dan membuat  aksesori bareng. Kadang kita saling beli
aksesori teman sendiri. Ada juga yang datang untuk belajar membuat
aksesori. Orang luar yang datang ke kafe dan melihat ada bazaar, lalu
berbelanja juga ada. Pembeli juga bisa memesan aksesori sesuai
keinginannya. Karena kita membawa alat, kadang bisa langsung kita
buatkan saat itu juga," jelas Lulu Ratna, penggagas Lingkar Pernik
kepada Kompas Female.

Berbaur karena hobi yang sama
Komunitas
ini tidak merekrut keanggotaan dengan cara formal. Anda hanya perlu
berbaur dengan sejumlah perempuan yang memiliki hobi sama, membuat
kerajinan tangan dari pernik atau rajutan. "Datang saja dulu, gabung
bersama kami. Kalau mau belajar juga boleh. Kita sama-sama belajar,
karena semua pembuat aksesori di sini learning by doing, kami bukan desainer aksesori, tapi lebih kepada meronce pernik dengan gaya masing-masing," jelas Lulu.

Aktivitas yang dilakukan karena hobi inilah yang membuat anggota Lingkar Pernik lebih nyaman menggelar bazaar daripada jualan online
atau menitip di toko besar misalnya. Pembuatan aksesori yang bergaya
personal, unik, dan tidak bersifat massal lebih jadi pilihan.

"Kami lebih suka arus supply demand
yang lebih pelan. Karena bisnis yang kami jalankan memang berskala
sangat kecil," papar Lulu yang mengawali konsep belanja ala Lingkar
Pernik bersama sahabatnya Carolina Monteiro (Olin).

Tak hanya
gaya aksesori yang berbeda, setiap anggota Lingkar Pernik juga berasal
dari berbagai latar belakang profesi. Lulu sendiri adalah penggiat film
pendek, sementara sahabatnya, Olin, adalah aktivis perempuan. Ada juga
yang berprofesi sebagai fixer, wartawan,
penulis buku, dan lainnya. Salah satu anggotanya bahkan sudah menulis
buku tentang aksesori rajutan, Ari Asih Pratiwi dengan bukunya Cricheting untuk Pemula, 13 Kreasi Aksesori Cantik.

Karena
hobi, setiap perajin Lingkar Pernik lebih mencari kepuasaan atau
kesibukan dari kegiatan meronce pernik ini. Alhasil, produk unik yang
mereka jual, selain khas dan berkarakter, juga tak dijual mahal.
Harganya bisa dibilang terjangkau mulai Rp 5.000 hingga Rp 100.000.

"Ketika
karya disukai dan diterima, kami senang, berarti ada orang lain yang
memiliki selera sama dan dengan begitu kami ingin menarik lebih banyak
lagi orang untuk menggunakan aksesori kreasi kami," tutur Lulu yang
memiliki label Pernik Apik Unik Asik sejak 2010 silam bersama Olin.

Label
Pernik Apik Unik Asik  juga dijual Lulu dan Olin saat bazaar,
berdampingan dengan aksesori lain buatannya sendiri dengan label Pernik
by Pernik. "Kalau label ini merupakan aksesori yang memang sudah jadi,
kami membelinya saat traveling untuk urusan pekerjaan, dalam jumlah
banyak, lalu menjualnya kembali. Tentunya, aksesori tersebut yang memang
sesuai dengan karakter kami," jelasnya.

Yogyakarta, Flores,
Jombang, Bali dan Jakarta (tepatnya di Rawabening, Mangga Dua dan
Asemka) merupakan daerah penghasil pernik dan aksesori unik yang selalu
menjadi incaran para pecinta pernik ini. Dari kota-kota tersebutlah,
pernik-pernik dikumpulkan, lalu dironce menjadi ragam aksesori yang tak
pasaran.

"Kami belanja di tempat yang sama, namun hasil akhirnya
berbeda karena perbedaan selera, warna, ukuran. Menciptakan sesuatu yang
berbeda menyenangkan karena mewakili karakter pribadi masing-masing.
Lebih memuaskan lagi ketika ada orang lain yang menyukai dan
membelinya," ujarnya.

Meski masing-masing punya karakter dan
idealisme, referensi tetap penting untuk mengembangkan koleksi aksesori
perajin Lingkar Pernik. Tren warna, model apa yang disukai penggemar
aksesori menjadi bahan pertimbangan saat mencipta aksesori, kata Lulu.

Menghasilkan
pendapatan tambahan tetap menjadi tujuan. Namun, komunitas Lingkar
Pernik lebih melihat kebutuhan lain dari kegiatannya. "Pekerjaan yang
kita lakukan sehari-hari memiliki tingkat stres tinggi, dan tidak bisa
terlalu idealis. Pekerjaan meronce aksesori ini bisa dibilang tempatnya
kami idealis. Namun yang ingin dihasilkan juga bukan cuma uang, tetapi
tambah teman, terutama tambah pengetahuan dari segi teknik. Juga bersama
ingin menelusuri sumber utama pernik di Jombang yang mulai tergencet
produk China," tandasnya.

Tertarik belajar meronce pernik, atau
Anda ingin mengoleksi aksesori yang unik? Bergabung saja di Lingkar
Pernik dengan berbagai kegiatannya yang dapat diikuti melalui Facebook
Lingkar Pernik.

Sumber: http://female.kompas.com/read/2011/12/29/12302458/Gaya.Belanja.Aksesori.Unik.ala.Lingkar.Pernik