Inspirasi bisa datang dari mana saja termasuk inspirasi cara menerapan Pendidikan Anti Korupsi (PAK) Basuki Sugita yang didapatkan dari buku Teaching integrity to Youth: Examples From 10 Countries terbitan Transparency International pada tahun 2005.
Basuki Sagita sebagai gurupun ingin melakukan perubahan terutama bagaimana cara menghilangkan korupsi dari negara Indonesia. Terus apa yang dilakukan Basuki terhadap siswa-siswinya?
Kalau Kamboja saja sebagai golongan negara ketiga telah menerapkan pendidikan kepada sekolah-sekolah mereka, mengapa Indonesia belum melaksanakannya?
Sebagaimana dikutip dari media indonesia basuki berkata "dan kebetulan saya adalah guru. bagi saya, guru tidak hanya mengajar, tapi juga ikut memerbaiki kondisi bangsa"
Untuk menjalankan Pendidikan Anti Korupsi tersebut, Basuki pun bertukar pikiran dengan beberapa guru, kepala sekolah, bahkan dengan lembaga komisi pemberantasan korupsi (KPK) dan praktisi hukum Todung Mulya Lubis.
Dalam menerapkan Pendidikan Anti Korupsi (PAK) tersebut yang dilakukan Basuki adalah memberikan materi-materi pendidikan anti korupsi. Pemberian materi-materi Pendidikan Anti Korupsi (PAK) tak ubahnya pelajaran-pelajaran lainnya. Basuki pun merubah cara memberikan pendidikan anti korupsi kepada anak secara langsung pada lapangan.
Karena Materi-materi PAK berkaitan dengan pasal-pasal yang sulit diterima oleh anak SMP, maka Basuki menerapkan kejujuran kepada murid-murid di SMP Keluarga Kudus sebagai tempat Basuki mengabdi.
Basuki dan guru-guru SMP Keluarga Kudus pun menerapkan kejujuran siswa lewat kantin kejujuran, melarang siswanya membawa motor karena seorang siswa smp belum memenuhi syarat untuk mempunyai SIM kecuali ia mendapatkannya dengan cara tidak jujur.
Generasi dengan kejujuran pada dirinya akan mengurangi korupsi pada negara indonesia ini, karena mereka merasa bahwa korupsi itu adalah mengambil hak orang lain dengan cara bathil.
Sumber: Media Indonesia