Thea Green belajar bisnis dari kedua orangtuanya. Ayahnya adalah seorang pemimpin perusahaan Littlewoods, yakni sebuah grup pengecer, dan ibunya pemilik gedung serbaguna. “Saudaraku dan aku harus mengosongkan mesin penggiling buah dan menghitung uang yang kami miliki. Aku ingat ketika aku berpikir bahwa hal tersebut adalah pekerjaan yang paling hebat di dunia yang pernah aku lakukan.” katanya.
Setelah ia menyelesaikan masa sekolahnya pada umur 18 tahun, Thea Green menyelesaikan kuliah Publik Relasi dan Jurnalnya diLondon College of Fashion. Pada Jumat sore ia ingin sedikit membantu memisahkan baju-baju dari meja kerja Fashion di surat kabar Daily Mail dan Tarler Magazine.
Ketika ia lulus, ia menawarkan bekerja di Tatler sebagai Koordinator Fashion dan secara bertahap ia bekerja di sana sampai akhirnya mendapatkan posisi sebagai Editor Fashion. Ketika berumur 24 tahun, Thea Green membagikan idenya pada teman dekatnya, Marie-Therese, yang bekerja di bagian periklanan tentang banyaknya wanita yang ingin mendapatkan perawatan kuku dengan rela antre berjam-jam.
Pasangan ini akhirnya berpetualang ke penjuru Inggris untuk melakukan survei. “Kami menceritakan dan membayangkan bahwa belum seorang pun yang pernah melakukannya,” ujar Thea Green.
Inilah kecerdikan Thea Green dalam melihat peluang serta pangsa pasar saat dirinya masih bekerja sebagai editor fashion. Terkesima dengan bisnis perawatan kuku seharga 10 dollar Amerika di New York yang menawarkan jasa cepat dan murah, Thea Green akhirnya mantap memutuskan untuk mendirikan Nails Inc,.
Salon kukunya yang pertama didirikan di London pada 1999 dan perkembangannya begitu pesat hingga ia sukses membuka 60 outlet di penjuru negeri plus toko online dengan nama serupa. Kabarnya, bisnis kecantikannya menuai sukses. Dalam seminggu, Nails Inc bisa melayani sekitar 10.000 pelanggan.
Berbeda dengan penyedia layanan manicure lainnya, yang juga menyediakan fasilitas perawatan di luar manicure yang menjadi kebutuhan kaum Hawa, bisnis Nails Inc benar-benar fokus hanya kepada perawatan kuku.
Green menekankan bahwa bisnis manicurenya benar-benar berbeda dari tempat lain. Green memutuskan bahwa cara yang unik dalam menjual produknya adalah dengan membuat manicure yang cepat – selesai dalam 15 menit. Padahal, bisnis manicure kala itu standarnya 50 menit dengan harga 10 dollar Amerika (Rp 90 ribu).
Dengan marketing ini, perusahaan yang dibangun Green menjadi sangat terkenal karena orang-orang banyak ingin mencoba manicure 15 menitnya meski harus mengantri selama 2 jam. Green, ibu tiga anak ini, berkata bahwa rahasia kesuksesannya adalah mengetahui dengan pasti apa yang ingin ia capai – dan terus fokus untuk tetap mencapai hal tersebut.
“Di Nails Inc, kita memiliki produk yang asli. Kita belum terlibat dalam pengerjaan alis atau wajah. Banyak kompetitor yang mengerjakan servis kecantikan yang menyeluruh dan menurutku itu bagus. Tapi kita tetap pada masalah kuku dan segala hal yang berkaitan dengan kuku,” ujarnya.
Bagaimana Thea Green merintis bisnisnya hingga bisa sukses. Berikut cuplikan wawancaranya nya yang dirangkum BBC belum lama ini.
Bagaimana ide bisnis itu muncul? Apakah Anda sengaja duduk sambil memikirkannya?
Thea: Waktu itu saya berusia 24 tahun dan masih bekerja sebagai jurnalis fashion yang banyak menghabiskan waktu di New York. Di kota itu, saya seperti merasa kecanduan dengan jasa manikur seharga 10 dollar Amerika. Dan itulah awal bagaimana saya melihatnya sebagai peluang bisnis.
Saya tidak percaya bahwa ternyata di Inggris tidak ada salon kuku seperti di New York yang tawarkan jasa secara cepat dan berharga murah untuk wanita pekerja yang sibuk. Jasa perawatan kuku yang ada di sini (Inggris) erat kaitannya dengan wanita yang sedang makan siang dan duduk berjam-jam. Saat kembali ke Inggris, saya mulai melakukan riset mengenai jasa perawatan kuku yang ada di penjuru UK. Hasilnya cukup mengejutkan. Saya menemukan adanya jurang perbedaan yang sangat lebar. Dari situlah saya merasa ide ini (membuka salon kuku) bisa segera diwujudkan.
Apakah perlu wawasan seputar manajemen bisnis dan akuntansi dan wawasan lain lalu membuka usaha?
Thea: Ada pro dan kontra mengenai hal itu. Sebagian besar entrepreneur sukses yang saya kenal tidak memiliki pendidikan (bisnis) namun mampu menciptakan sesuatu yang besar, mereka memiliki visi yang juga sangat besar untuk meraih kesuksesan.
Sementara itu, pendidikan tinggi memberi anda wawasan dan keahlian yang mungkin berguna dalam menjalani bisnis. Universitas juga merupakan tempat dan waktu yang baik untuk bertemu orang-orang baru, memperluas jaringan serta mencoba hal baru.
Menurut saya keputusan apapun, tidak seharusnya menghentikan kita untuk mengejar bisnis yang benar-benar sesuai dengan passion kita.
Bagaimana anda mendanai usaha, terutama tanpa pengalaman berbisnis sebelumnya?
Thea: Saya berhenti kerja dan dalam waktu yang bersamaan mulai membuat business plan lalu menjelajahi tanah air (Inggris) untuk mencari investor. Saya memiliki keyakinan yang kuat terhadap ide saya. Pada kenyataannya, mereka (para investor yang ditemui) tidak semuanya menanggapi secara positif dan mau menginvestasikan uang mereka dalam bisnis saya. Tapi akhirnya saya berhasil mengumpulkan 200 ribu poundsterling dari 11 investor yang murah hati untuk merintis bisnis saya.
Mengapa anda memutuskan untuk berbisnis? Apakah ini merupakan hal yang anda impi-impikan sejak lama atau ide untuk berbisnis itu muncul begitu saja?
Thea: Pada saat ide mendirikan Nails Inc muncul, saya masih bekerja sebagai editor fashion di Tatler. Pekerjaan itu adalah impian saya. Saat bekerja, saya tidak pernah mencari-cari kesempatan untuk berbisnis. Tapi begitu ide itu muncul begitu saja, saya tahu kesempatan itu terlalu bagus untuk ditolak.
Hal-hal yang terjadi dalam Nails Inc menurut saya terjadi secara natural. Respon dari ide bisnis itu sendiri juga bersifat cepat. Banyak orang yang bertanya kepada saya, kapan Nails Inc resmi buka dan lain sebagainya. Karena itu, saya melakukannya. Dan keputusan untuk membuka usaha sendiri itu mempunyai konsekuensi yang sangat besar. Saya harus berhenti bekerja, tidak memiliki modal dan tidak ada investasi. Semuanya bagaikan pertaruhan.
Bagaimana anda menumbuhkan rasa percaya diri untuk mengejar impian?
Thea: Mempersiapkan dan mengelola bisnis sendiri merupakan tantangan besar, banyak kendala dan banyak juga orang yang berusaha untuk menjatuhkan semangat anda. Meski begitu anda harus mempertimbangkan segalanya dengan matang dan jangan pernah menyerah. Saya sangat yakin jika anda memiliki ide besar dan kesempatan untuk sukses, segalanya bisa menjadi possible.bbc,ins
Tips Sukses Bisnis dari Thea Green
-Jangan biarkan orang lain mematahkan ide-ide brilian Anda. Agar ide-ide Anda bisa diterima, persiapkan secara matang seluruh fakta dan informasi. Pastikan juga Anda telah menelitinya sebanyak Anda bisa.
-Sebagian besar entrepreneur sukses yang saya kenal tidak memiliki pendidikan (bisnis) namun mampu menciptakan sesuatu yang besar, mereka memiliki visi yang juga sangat besar untuk meraih kesuksesan.
-Mempersiapkan dan mengelola bisnis sendiri merupakan tantangan besar, banyak kendala dan banyak juga orang yang berusaha untuk menjatuhkan semangat anda. Meski begitu anda harus mempertimbangkan segalanya dengan matang dan jangan pernah menyerah.
Repost : http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=19ced5ebcfe8335a64f396fbe2403703&jenis=8f14e45fceea167a5a36dedd4bea2543